Langsung ke konten utama

Suatu Malam di Kampung Anyar

 

Suatu Malam di Kampung Anyar

Karya oleh Dita

 

Di ufuk timur sana Mentari mengintip dengan malu. Ia naik perlahan, bersiap menggantikan Rembulan yang bersinar semalaman. Kalau Mentari sekadar mengintip bahkan muncul, maka langit akan menjingga. Kalau langit menjingga, maka kelelawar akan kembali ke sarangnya dan burung kuntul mendarat di sawah-sawah. Manuk kuntul sudah mendarat, beberapa sedang mengais ikan di empang atau minum air di aliran sawah.

Kali ini pagi entah pukul berapa, tetapi langit sudah menjingga walau kabut-kabut masih berterbangan diatas sawah seperti awan. Cahaya mentari menyentuh lembut hamparan hijau padi, menambahkan warna kejinggaan pada pucuk-pucuk hijau. Sawah yang hijau itu kini berbalut gradasi warna jingga.

Bu Darmi berjalan tergopoh-gopoh menyusuri jalan yang membentang di tengah sawah. Dari ujung sana, orang-orang kampung datang dengan onthel terlihat mengenakan caping di kepala mereka. Inilah para petani yang siap menyawah, kebanyakan dari Kampung Anyar.

“Gasik Bu?”

“Nggih!”

Bu Darmi tersenyum walau wajahnya penuh peluh keringat. Bibirnya terbuka, menghembus nafas, nafasnya berat. Badan yang kurus itu menggotong kresek hitam besar di tangan kanan. Sepertinya habis berbelanja dari Kalikidang. Jaraknya tak terlalu jauh, hanya sekitar setengah kilo. Tetapi jarak itu jika dilalui Bu Darmi yang berbadan ceking lagi membawa kresek belanjaan, tentu rasanya jauh. Bisa dilihat Bu Darmi beberapa kali berhenti, memegangi pinggang, lalu berjalan lagi beberapa langkah. Keringatnya pun mengucur deras walau suasana pagi ini dingin seperti di gunung.

Di setiap langkah yang tergopoh itu Bu Darmi sebenarnya buru-buru. Harusnya Ia tak pulang saat mentari sudah menyingsing, harusnya Ia sekarang berangkat ke sawah dengan orang Kampung Anyar tadi. Tetapi Bu Darmi memilih mengantri panjang demi membeli sekarung beras dan beberapa buah bongkrek. Uang Bu Darmi tipis untuk membeli tempe, maka bongkrek terpaksa Ia beli.

Bongkrek menjadi makanan populer di Kampung Anyar. Kalau ingin membeli bongkrek yang murah, mereka akan pergi ke Pasar Kalikidang. Disana ada penjual bongkrek, tetapi resikonya harus mengantre atau tidak dapat sama sekali. Laris, sangat laris. Itu karena warga Kampung Anyar memang kebanyakan petani miskin, tak bisa sehari-hari makan tempe atau telur. Maka munculah makanan bernama ‘bongkrek’ ini yang entah siapa pencetusnya. Biasanya mereka mencampur bongkrek dengan daun genjer, namun daun genjer kurang disukai masyarakat Kampung Anyar karena rasanya pahit. Tidak seperti genjer, bongkrek rasanya sedikit manis walau jika sedang dikunyah terkadang seperti gradakan krikil.

Keuangan prihatin menjadi alasan Bu Darmi membeli bogkrek. Karena Kang Tarmin itu suami yang gemar berjudi, uang untuk makan sehari-hari menipis walau belum tanggal tua. Kemarin Ia misuh-misuh karena kalah berjudi, uangnya ludes untuk membayar taruhan. Entah karena saking sontoloyo-nya Kang Tarmin atau memang tidak hoki, Ia jarang menang judi. Menurut Bu Darmi, berjudi itu sia-sia karena bikin tambah miskin. Tetapi Kang Tarmin tak mengidahkan apapun cerewetan dari mulut Bu Darmi, dirinya tetap berjudi. Berangkat siang, pulang menjelang malam dengan muka teler. Nanti kalau sudah sampai dirumah pasti mulutnya bau air tapai. Nanti kalau sudah begitu Kang Tarmin ngelantur sampai tertidur.

Ah, Bu Darmi sudah lelah dengan Kang Tarmin. Mau dimarahi sampai mulut berbusa pun telinga Kang Tarmin mempet. Akhirnya Ia memilih bekerja juga di sawah walau gaji tak seberapa. Untuk jaga-jaga jika Kang Tarmin kalah judi atau memang sedang dimabuk judi, masih ada sedikit uang untuk anak-anaknya makan.

***

“Makanan apa ini bu?! Makanan ternak?”

Ini suara Kang Tarmin terdengar jengkel sekali. Ia menutup tudung saji dengan kasar. Didalamnya tersaji nasi putih lengkap dengan gorengan bongkrek. Tetapi terlihat tidak menggiurkan sama sekali menurut Kang Tarmin. Tampilan bongkrek yang hitam dekil membuat Kang Tarmin jatuh selera makan-nya.

Kang Tarmin berjalan kearah sumur, disana terdengar suara jeburan air. Piring di tangan masih digenggam erat sembari diacung-acungkan kearah istrinya yang tengah memandikan si kecil Tonil.

“Masih mending aku makan tempe daripada makan bongkrek!”

Bu Darmi geram. Ia lempar gayung kearah Kang Tarmin. Dadanya kembang-kempis, matanya melotot. Tonil yang masih berendam di bokor menyembunyikan wajah. Dipikiran-nya takut piring yang ada di tangan Kang Tarmin melayang kena kearah dirinya.

“Kang! Uang yang kau beri cuma cukup buat beli bongkrek! Masih untung aku bersedia masak. Kalau tak mau makan yasudah makan genjer saja, tapi kau masak sendiri!”

Kang Tarmin mendelik. Urat-urat yang ada di dahinya menegang. Alisnya yang menukik itu makin tambah menukik.

“Istri tidak tahu diri! Berani melawan! Asu!”

PRANG!!!

Bu Darmi meloncat terkejut. Piring yang ada di tangan Kang Tarmin itu akhirnya terlempar juga. Tetapi untungnya hanya mengenai pinggiran sumur, tak sampai mengenai Bu Darmi.

Mendengar suara ribut seperti itu Tonil tentu menangis memanggil nama ibunya. Wajah lugu itu entah bercampur antara kebingungan atau ketakutan. Matanya melirik kekanan dan kekiri, badan-nya mengigil sampai rahang bergetar.

Oh, Bu Darmi tak bisa melakukan apa-apa selain menggotong Tonil keluar dari bak. Kang Tarmin si penjudi itu melenggang pergi dari sumur. Ia mengambil motor dan membunyikan mesin keras-keras seperti suara traktor. Tak lama suara mesin yang menderu itu makin menjauh.

Bu Darmi tak peduli suaminya mau pergi kemana, malah bersyukur. Ia mendekap Tonil sambil menyelimuti malaikat kecilnya itu dengan handuk. Dirinya terisak, tangan-nya membelai lembut kepala Tonil.

Disela Bu Darmi yang masih berusaha menenangkan Tonil itu, Yu Dinem masuk. Langkahnya buru-buru apalagi melihat kondisi Bu Darmi yang menangis sambil mengelus Tonil, Yu Dinem panik.

Yu Dinem adalah tetangga sebelah rumah, biasanya Ia yang menjaga Tonil ketika Bu Darmi pergi kerja ke sawah. Yu Dinem rela tidak dibayar, katanya Ia menjaga Tonil dengan senang hati karena Tonil penurut. Selain itu Yu Dinem sayang anak-anak karena mengingatkan dirinya saat menjaga Mas Bagus saat kecil.

“Ealah Bu, kenapa lagi ini?!”

Yu Dinem mendekat. Nafasnya ngos-ngosan.

Bu Darmi menahan nafas, Ia menatap keatas kearah langit supaya air matanya terhenti. Pipinya Ia seka sendiri.

“Nggak apa-apa, Yu. Biasalah, seperti kamu tidak tahu Kang Tarmin saja”, ucap Bu Darmi. Bibirnya masih sempat menyungging senyum walau beberapa kali menekuk keatas.

Yu Dinem menggaruk kepala yang tidak gatal. Ya, Yu Dinem tentu tahu kelakuan Kang Tarmin itu. Dirinya juga mendengar dari gunjingan tentangga kalau Kang Tarmin doyan judi. Selain doyan judi, banyak yang bilang suka memadu wanita juga. Kalau tentang wanita Yu Dinem pernah meemrgoki sendiri Kang Tarmin membawa Siti di motornya. Siapapun tau Siti, dia wanita nakal yang sering nongkrong dipinggir jalan. Kerjaan-nya menggoda lelaki bangka berperut buncit asal punya duit. Tetapi perihal wanita ini Yu Dinem tak pernah ceritakan kepada Bu Darmi atau mungkin bahkan Bu Darmi tidak tahu karena memang tetangga sekitar berdiam mulut ketika Bu Darmi lewat. Takut terdengar tentu saja atau takut menyakiti hati Bu Darmi.

Tapi yang lebih membuat Yu Dinem kikuk, kali ini kedatangan-nya bukan untuk menjaga Tonil. Bukan pula karena mendengar suara ribut Kang Tarmin atau pecahan piring. Melainkan,

“Bu, pangapunten, kondisinya sedang tidak baik ya? Tapi saya hari ini tidak bisa menjaga Tonil”.

Bu Darmi mengangkat alis, “Kenapa toh, Yu? Padahal saya mau berangkat ke sawah”.

Yu Dinem menghela nafas, “Saudara saya di Karangnangka meninggal Bu, saya mau layat hari ini. Mungkin baru pulang besok pagi”.

Bu Darmi membulatkan bibir, “Oh yasudah Yu, kali ini saya libur kerja dulu. Terima kasih ya Yu, dari kemarin sudah menjaga Tonil”.

Yu Dinem mengangguk Ia berpamitan kemudian. Langkahnya buru-buru sekali, seperti memang sebentar lagi akan berangkat ke Karangnangka. Sementara Bu Darmi, Ia hanya mampu melihat Yu Dinem yang perlahan menghilang diambang pintu. Makin jauh langkahnya. Tonil masih didekap dan Bu Darmi making erat pula dekapnya.

“Sekarang kita makan seadanya dulu ya cah bagus, nanti habis itu kita tertidur”, ucap Bu Darmi. Ia mengecup pipi lembut Tonil.

***

Dari ujung jalan sana terlihat lampu motor menyorot, makin dekat dan makin dekat. Langit mulai menggelap dan kelelawar telah bangun dari tidur siangnya. Manuk kuntul tentu tak terlihat lagi di pelantaran sawah. Suara kodok ngorek digantikan dengan suara kirik melolong lalu suara jangkrik tentu saja. Mentari sudah terlelap di barat. Bulan perlahan terbit, sekarang bulat sempurna.

Kang Tarmin, Ia bersiul-siul sambil tertawa gembira diatas motor. Di stang kiri ada dua kresek hitam menyantol. Yang satu berisi sate, yang satu lagi berisi entah apa.

“Aku kaya, aku kaya!” Kang Tarmin berteriak-teriak.

Wajahnya sumringah meskipun seperti biasa, memerah seperti orang teler.

Bertanyalah, mengapa Kang Tarmin yang tadi minggat marah-marah sekarang pulang menjelang maghrib dengan wajah gembira? Dijawab, Ia habis menang judi rupanya.

Kresek hitam yang bukan isi sate itu berisi uang. Ternyata sepanjang siang Ia main judi dan berhasil menang. Satu kresek uang jatuh ke tangan Kang Tarmin. Hatinya tentu gembira. Segera dibelanjakan uang itu untuk membeli sate karena perutnya sedari tadi keroncongan belum diisi. Lalu yang lain Ia habiskan untuk traktir arak, sisanya dibawa pulang.

Bagi Kang Tarmin, makan sate bukan hal biasa untuk orang kecil seperti dirinya. Bukan tanggung Ia malah membeli sate kambing yang terkenal mahal. Tapi Kang Tarmin ingin membahagiakan diri, setidaknya makan enak untuk malam ini. Maka mau semahal apapun Kang Tarmin tidak peduli. Ia ingin dirinya hepi.

Tak lama deru motor melambat. Kang Tarmin tiba dirumah tepat saat adzan usai dikumandangkan.

Aneh, kondisi rumah masih gelap. Biasanya lampu kalau sudah malam begini akan dinyalakan.

Tetapi Kang Tarmin yang hatinya gembira ria tidak mengidahkan segala keanehan yang ada. Ia melompat turun, melangkahkan kaki riang.

“Bu, aku bawa uang banyak!”

Dinyalakan lampu olehnya. Nihil. Bahkan suara Bu Darmi tidak terdengar.

“Bu?!”

Kang Tarmin lagi-lagi kesal. Ia sangat berharap disambut oleh istrinya. Setidaknya dipuja-puji karena mendapat banyak uang.

Tetapi yang Ia lihat ternyata istrinya nyenyak diatas kasur bersama Tonil di dekap. Tidurnya sangat lelap sampai saat Kang Tarmin mengguncang badan istrinya pun tak kunjung bergerak.

Kang Tarmin mendengus, “Masih marah kau sama aku?! Yasudah, sate ini kuhabiskan sendiri!”

Ia melenggang pergi menuju dapur, mengambil nasi lalu mulai menyuap makan. Piring dan sendok garpunya berdecit, mungkin karena kesal. Berharap disambut istri lalu dipuji malah ditinggal tidur istri.

Ah, Kang Tarmin sebal. Ia meneguk arak yang tersisa, bekas tadi Ia bawa. Makin telerlah lagi dirinya itu.

Diluar sunyi lengang, namun hanya bertahan beberapa menit. Setelah itu Kang Tarmin dari telinganya mendengar suara kucing meraung-raung. Berpikiran dirinya, mungkin suara kucing kawin. Lanjutlah makan, tak peduli. Beberapa tenggak arak Ia minum lagi sebelum menyuap sate ke mulut.

Tak berapa lama suara getokan bambu. Kang Tarmin marah, menggebrak meja. Sudah berisik oleh suara kucing kawin, sekarang suara getokan bambu pula?!

Ia melesat keluar, membuka pintu dengan kasar.

Di depan matanya Pak Abdul berlari-lari seperti melihat hantu. Beberapa warga lain di depan pak Abdul juga berlarian. Mereka membawa obor, membawa pemukul bambu, dan ada yang membawa air berwarna keruh di botol.

Bingunglah Kang Tarmin.

“Abdul, ada apa?!” Kang Tarmin berteriak.

Pak Abdul berhenti, menoleh kearah Kang Tarmin. Nafasnya berat mungkin karena perutnya yang buncit itu dipaksa untuk berlari.

“Mbok Ijah! Mbok Ijah pingsan!”

Kang Tarmin melotot. Walau langkahnya oleng kekiri dan kekanan Kang Tarmin akhirnya meninggalkan rumah juga, menyusul Pak Abdul.

Ternyata di depan rumah Mbok Ijah sudah berkerumun orang. Makin dekatlah dirumah Mbok Ijah ada tabib desa yang mulutnya berkomat-kamit sambil menuangkan air keruh dalam botol tadi kedalam gelas. Sepertinya jamu, baunya temulawak.

Kang Tarmin karena badan-nya tinggi besar jadi bisa melihat walau seberapa banyak warga berkerumun. Di pandangan-nya yang terbatas itu, Kang Tarmin melihat Mbok Ijah terbaring. Mulutnya mengeluarkan busa.

“Kesurupan kah Mbok Ijah itu?!”

“Tidak tahu!”

Mbok Ijah didudukkan, mulutnya dipaksa minum jamu tadi. Namun, nihil. Mbok Ijah bahkan tidak sekalipun menelan jamu yang disuapkan oleh tabib.

Kemudian dalam keheningan itu nadi Mbok Ijah diperiksa. Ditekan-tekan pergelangan tangan-nya oleh Sang Tabib. Ditempelkan jemari dibawah hidung Mbok Ijah.

Langsunglah muka Sang Tabib memucat. Matanya menatap sayu kearah Mbok Ijah, jemari tangan Mbok Ijah dikatupkan dan wajah diusap. Sang Tabib kembali berdoa namun kali ini di sela doanya Sang Tabib menangis.

Seluruh warga diam, menerka-nerka apa yang terjadi dengan Mbok Ijah.

Sang Tabib berdiri, memandang kearah warga. Dadanya seperti menahan nafas.

“Kenapa? Kenapa ibuku ini?” Siti, anak Mbok Ijah. Ia mengguncang bahu Sang Tabib.

Sang Tabib mengelus pelan Siti, “Tadi siang, ibumu makan apa?”

Siti terdiam, menatap Sang Tabib lekat sebelum menjawab,

“Tadi siang ibuku hanya makan bongkrek”.

Sang Tabib menghela, “Sepertinya ibumu keracunan bongkrek”.

Dalam keberatan itu Sang Tabib berkata. Dalam keberatan itu Sang Tabib menyatakan bahwa Mbok Ijah telah meninggal.

Jatuh pingsan Siti, tak kuat mendengar kalimat barusan.

Warga kampung pun heboh, mereka berlarian dan panik karena tadi siang pun beberapa dari mereka makan bongkrek.

Kang Tarmin diam mematung, menatap Siti yang pingsan dan tubuh Mbok Ijah terbujur kaku.

Tangan-nya bergetar, telinganya pengang karena teriakan warga.

Suara berisik yang dikira kucing kawin itu ternyata adalah suara tangisan Siti. Suara kentongan bambu tadi ternyata adalah suara tanda bahaya, bukan anak iseng yang sengaja memainkan kentong pos ronda di kala malam.

Dalam kepanikan itu Kang Tarmin segera membalikkan badan, berlari sempoyongan menuju rumah. Matanya berkaca-kaca, rahang bergetar. Dalam kekacauan pikiran-nya itu, Kang Tarmin menerobos gelapnya malam. Ia berusaha mempertahankan kesadaran dan kewarasan-nya yang ada dibawah pengaruh arak.

Kiri kanan mulai terdengar teriakan warga. Kang Tarmin menolehkan kepala. Dilihatnya Pak Abdul ada di bilik depan rumah. Kini Pak Abdul menangis sambil memegangi putrinya yang mulutnya juga mengeluarkan busa persis seperti Mbok Ijah. Suara kentong bambu pun dipukul-pukul berisik, tak hanya satu melainkan bersahut-sahutan dari segala arah. Kang Tarmin melihat sendiri warga Kampung Anyar berada diujung pilu.

Tetapi Kang Tarmin terus berlari. Ia tak peduli akan beberapa sanak teman dan tetangga yang tumbang atau menangis pilu dirumah mereka.

Yang ada di pikiran-nya adalah Bu Darmi dan Tonil. Mengapa mereka masih terbaring diatas kasur tadi? Mengapa tubuhnya tidak bergerak padahal Kang Tarmin sudah mengguncang-nya hebat?!

 

GUBRAK!

Kang Tarmin mendobrak pintu rumah. Dirinya jatuh, kepalanya berputar seperti habis main kora-kora.

Dalam ketidakberdayaan-nya itu, Kang Tarmin menyeret tubuhnya masuk menuju kamar. Dipanggil nama istri dan anaknya,

“Darmi! Tonil!”

Terus Ia seret tubuhnya. Dadanya berdegup kencang, nafas tersengal-sengal. Ia meraung-raung memanggil nama ‘Darmi dan Tonil’.

Dengan susah payah Ia meraih pinggiran kasur, menyibak kelambu dan mengguncang tubuh istirnya.

Tetap saja istrinya tidak berkutik.

“Darmi! Bangun kau Darmi!”

Kang Tarmin mengangkat tubuh Bu Darmi. Dibalikkan wajah Bu Darmi.

Dan ketika wajah sang istri dilihat, Kang Tarmin kembali terjatuh lemas. Untuk bangkit menatap Tonil saja Ia tak mampu.

Sekarang Kang Tarmin tergolek diatas lantai sambil meraung pilu.

Sate yang tadi Ia beli terasa sangat memuakkan. Uang satu kresek yang Ia dapat dari hasil judi terasa sia-sia. Lalu dalam batin Kang Tarmin entah harus bersyukur atau nelangsa, “Kalau saja tadi aku makan bongkrek, bagaimana jadinya?”, berkata hatinya.

Tapi sekarang sendirilah sekarang Kang Tarmin. Malanglah engkau, Kang Tarmin...

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANI YANG GEMAR MENANTI

ANI YANG GEMAR MENANTI Karya oleh Senaphilme   Malam pukul tujuh di Stasiun Purwokerto, Ani duduk sembari menerawang kearah papan kerlap-kerlip bertuliskan jadwal kedatangan sepur. Jaketnya Ia kancing sampai leher, kedua tangan mengatup sambil sesekali digesek satu sama lain. Kakinya bergoyang kekanan kekiri hampir seperti orang menggigil. Matanya sayu seperti tidak tidur semalaman, ada garis hitam dibawah mata. Diluar angin bertiup membawa hujan sampai menggoyang pohon. Guntur sesekali menyambar, terkadang hanya bergemuruh, terkadang keras seperti bunyi petasan mercon. Hawa dingin masuk, menusuk tubuh Ani walau seberapa rapat Ia sudah mengancing jaketnya. Tetapi badan-nya teguh, tak sedikitpun Ia sandarkan walau matanya beberapa kali meminta Ani untuk tidur. Terkantuk-kantuk dirinya. Kalau bertanya tentang apa yang ditunggu oleh Ani, maka dijawab Ani sedang menunggu sepur dari Yogyakarta―Purwokerto. Mungkin hatinya akan tenang ketika lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ berkumandang say...

ANCOL DI PENGHUJUNG MALAM

Ancol di Penghujung Malam Karya oleh Senaphilme     “Kau kerja disini juga, Mbak?” Aku menghembus nafas. Asap tipis keluar dari bibirku sebelum aku menjawab pertanyaan dari seseorang berpenampilan menor di depanku ini. Tidak, ini bukan asap rokok melainkan uap udaraku sendiri. Malam ini entah mengapa begitu dingin. Kusapu pandangan sejenak. Ratri sudah sunyi, kendaraan berlalu lalang tak sebanyak tadi. Suara desir pantai Ancol menembus telingaku, tak lagi bising oleh suara mesin ataupun klakson. Kalau bicara soal Ancol, siapapun tahu nama tempat ini. Tetapi yang tidak kebanyakan orang tahu tentang Ancol adalah betapa liarnya Ia dimalam hari. Disana, diujung sana ada yang memadu tanpa tahu malu. Kalau kau mau lebih liar lagi masuklah ke tempat-tempat gelap. Maka kau akan melihat para insan entah sedang berada diambang kenikmatan atau pengaruh bisikan setan. Terkadang aku hanya tersenyum atau tertawa sendiri melihat para insan yang larut dalam maksiat. Seperti...

Kalau Jodoh Tidak Kemana

 "Bejo, sampai kapan kau akan terus menunda begini? Mau nunggu sampai Mpok Inah menjanda?!" "Tenanglah Tarjo, nanti masih ada waktu. Aku mau bersantai sebentar". Kalau soal Bejo dia adalah pemuda yang hobinya suka menunda. Mau soal kerja, mau soal tugas ataupun jodoh pasti suka menunda. Jawabnya, "Nanti juga bisa". Hari-harinya diisi dengan rebahan dibawah pohon klengkeng, menikmati es lilin sambil mengawasi domba. Kemarin ada panggilan untuk kerja lebih baik, bekerja di ladang Pak Samir misalnya. Sempat Bejo ambil, tetapi karena sifat Bejo yang penunda membuat bos siapapun geram. "Wanita incaran-mu itu, siapa namanya? " Tarjo berkacak pinggang, tangan satunya mengorek upil dengan kelingking. "Hah, si Arum? Kenapa?" Tarjo mendengus lalu menyutik upil keluar, melempar upil itu kearah Bejo. "Inilah akibat orang suka menunda, soal kerja saja ditunda apalagi soal jodoh pasti ditunda juga". Bejo memiringkan kepala bingung, "Ma...