Langsung ke konten utama

ANCOL DI PENGHUJUNG MALAM


Ancol di Penghujung Malam

Karya oleh Senaphilme

 

 

“Kau kerja disini juga, Mbak?”

Aku menghembus nafas. Asap tipis keluar dari bibirku sebelum aku menjawab pertanyaan dari seseorang berpenampilan menor di depanku ini. Tidak, ini bukan asap rokok melainkan uap udaraku sendiri. Malam ini entah mengapa begitu dingin.

Kusapu pandangan sejenak. Ratri sudah sunyi, kendaraan berlalu lalang tak sebanyak tadi. Suara desir pantai Ancol menembus telingaku, tak lagi bising oleh suara mesin ataupun klakson.

Kalau bicara soal Ancol, siapapun tahu nama tempat ini. Tetapi yang tidak kebanyakan orang tahu tentang Ancol adalah betapa liarnya Ia dimalam hari.

Disana, diujung sana ada yang memadu tanpa tahu malu. Kalau kau mau lebih liar lagi masuklah ke tempat-tempat gelap. Maka kau akan melihat para insan entah sedang berada diambang kenikmatan atau pengaruh bisikan setan.

Terkadang aku hanya tersenyum atau tertawa sendiri melihat para insan yang larut dalam maksiat. Seperti hidup mereka akan panjang saja. Tetapi aku tak ingin menceramahi. Oh, orang-orang itu tentu tahu mereka sedang berbuat apa.

Sejujurnya, aku datang ke Ancol malam ini hanya untuk melarikan diri sejenak dan tenggelam dalam sepi. Lari dari hiruk piruk kota Jakarta. Penghiburanku memang begitu aneh, melihat tabiat manusia yang terkadang buas seperti hewan. Entahlah, itu memberiku sedikit syukur. Yah, setidaknya hidupku masih lebih baik daripada mereka.

“Mbak?”

“Y-ya?”

Aku tertegun, aku baru saja mengabaikan orang yang di depanku ini. Dia berpenampilan seperti wanita, tapi aku tahu dia bukan wanita. Nada suaranya terlalu serak untuk wanita, jakun itu tentu tak bisa Ia tutupi. Dan pahanya itu terlalu besar, terlalu kekar.

“Kerja disini?”

Aku menggeleng, tersenyum.

“Ngapain disini kalau begitu?” Dia mendekat, duduk disampingku. Nadanya menggoda,

“Nyari cowok?”

Aku menggeleng lagi. Kali ini aku mulai risih.

Ia memanyunkan bibirnya kemudian menunjuk kearah motorku, “Itu motornya kamu? Motornya bagus”.

Aku mengalihkan pandangan kearah motor yang terparkir tak jauh dariku. Lalu kepalaku bergerak, kali ini mengangguk.

“Wah, cewe kok pakai motor ninja? Memangnya tidak takut dibegal?” Ucapnya kemudian menyalakan rokok. Bibirnya yang tebal dan merah seperti delima itu mulai menghisap rokok. Matanya yang ditempeli bulu mata palsu tebal tak henti berkedip genit.

Kutatap waria itu sebentar,

“Begal saja takut padaku”, ucapku.

Ia tertawa dengan nada yang dibuat seperti wanita. Pelan, melengking dan terkesan menggoda.

Oh, rasanya aku ingin pergi. Biasanya aku hanya berdiri sendirian dan aku tidak nyaman berbicara dengan orang asing.

“Memangnya Mbak ini preman sampai begal saja takut?” Waria itu berujar lagi setelah Ia puas tertawa.

Aku tersenyum miring, memilih tak menjawab.

Pandanganku terarah ke ujung Ancol sana yang menyisakan beberapa tempat gelap. Sayup-sayup terdengar suara birahi yang membuat telingaku geli. Dalam kegelapan itu sebuah bayangan bergerak-gerak. Naik turun seperti sedang memompa sepeda atau mungkin lebih mirip kucing yang bermadu kasih? Aku mengamati lekat, mataku terarah serius.

Aku tahu suara itu dan bayangan yang bergerak itu bukan kucing kawin. Ah, mereka dibayar berapa sampai mau melakukan hal semacam itu? Menarik sekali beberapa orang merelakan tubuhnya mungkin untuk uang yang tak seberapa.

“Lusi”

Aku tertegun, Ia tiba-tiba mengulurkan tangan kepadaku. Kukunya bahkan memakai kuteks lebih berwarna dari punyaku.

Aku menjabat tangan-nya dengan kikuk, “Gita”, ucapku.

“Ih, cantik!” Ia berteriak genit.

Aku terperanjat, tetapi menyisakan takut.

Tunggu, apa yang kutakutkan? Hanya saja aku tiba-tiba merasa ngeri melihat pria berteriak genit seperti itu. Apalagi dalam jarak dekat, aku belum pernah bertemu waria dalam jarak sedekat ini.

Lusi tertawa, kemudian menghembus asap rokok kearah wajahku dengan sengaja.

“Biasa aja kali! Kaget ketemu aku?” Tawanya lagi-lagi menggema.

Aku mengibaskan tangan, terbatuk pelan. Astaga, aku benci asap rokok.

“Sedikit kaget”, ucapku.

Ia tak melepas senyum di bibirnya itu.

Lusi, kupandangi dia dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dari perawakan-nya Ia memang sangat mirip wanita. Make up bagus, wig-nya terlihat natural, dan pakaian-nya sangat feminim. Jauh lebih feminim dariku yang hanya memakai jaket kulit, celana jeans dan sepatu kets. Rambutku yang ikal saja kubiarkan tergerai berantakkan seperti gitaris Gun’N Roses.

“Kamu juga bekerja seperti mereka?” Tanyaku.

Lusi berdehem, mengangguk.

“Dibayar berapa?”

“Tergantung”, Lusi memanyunkan bibirnya seperti ibu-ibu yang siap bergosip, “Kalau yang minta tidak kaya, paling-paling cuma 50 ribu. Biasalah, laki-laki miskin yang nggak punya pasangan atau bininya nggak jago lidahnya”, Ia tertawa kemudian.

Aku hanya nyengir di sudut bibir.

“Ada juga yang berani bawa ke hotel. Biasanya berduit, agak gendut. Walau lima menit udah tepar, tapi bisa sampai satu juta masuk kantong”, lanjut Lusi.

Aku mengangguk. Yah, sepertinya tidak bisa dipatok berapa per harinya. Tetapi satu pertanyaan selalu muncul di benakku,

“Kenapa kau rela melakukan hal semacam itu untuk uang yang tak seberapa?” Akhirnya aku bertanya. Pertanyaan yang menurutku agak lancang, mungkin bisa jadi menyinggung. Benar, aku tak ada maksud menyinggung hanya penasaran.

Lusi menghela nafas. Senyumnya mengendur, tak selebar tadi. Kini Ia membalikkan badan dan kepalanya menengok kebawah jembatan. Air berkecipak tapi tak deras, Lusi memandangi itu sejenak.

“Kalau saya karena punya anak...”

Mataku membulat. Seorang waria punya anak?

“Saya aslinya bukan dari Jakarta, dari kampung di Tegal”, Lusi menatapku, “Dulu saya kena PHK, merantau ke Jakarta dan sekarang malah terjebak di pekerjaan kotor seperti ini”, Ia masih berusaha menarik senyum walau kulihat bibirnya mulai bergetar.

“Mungkin sekarang anak saya seumuran denganmu, tidak pernah tahu. Yang saya lakukan cuma mengirim uang bulanan, asalkan semua terpenuhi dan anak saya bisa sekolah―”

Lusi tertawa lirih, tetapi bukan tawa bahagia.

“Saya senang nanti kalau dia sukses. Jangan sampai jadi seperti saya”.

Aku mengkerutkan alis.  Mataku bergetar.

Sepertinya aku terlalu cepat memandang sebelah mata waria ini. Ternyata mereka pun sama seperti manusia biasa. Memiliki keinginan berkeluarga, memiliki hak untuk mencintai juga. Tak kusangka, Ia bahkan punya anak di kampung sana. Bagaimana perasaan anaknya ya kalau dia tahu bapaknya rela bekerja seperti ini demi hidupnya?

Kurasakan dadaku sesak, apakah aku terlalu jahat sampai baru mengetahui hal semacam ini dari para pekerja yang dianggap ‘kotor’?

Lalu Lusi, Ia melempar rokoknya ke dalam riang sungai. Mati sumbunya dan mengapung disana.

“Nak cantik, sekarang Lusi harus lanjut kerja dulu ya. Lumayan tuh  ada pelanggan di depan mata, dadah~”

Lusi langsung pergi, meninggalkanku yang tak sempat berucap sepatah kata.

Aku hanya menatap langkahnya yang sengaja Ia goyangkan kekiri dan kekanan dengan genit. Dirinya mendekati seorang pria berpakaian  rapi. Menggeleyot manja, lalu pria itu membawa Lusi masuk kedalam mobilnya.

Aku menggigit bibir bawahku sendiri. Mataku menyapu sekitar, pandanganku membayang karena air mata mulai menggenang.

Kesimpulan aku  ambil terlalu cepat. Mereka para ‘penghibur’ ini rupanya menyimpan sesuatu dalam diri. Ancol di penghujung malam ternyata memberitahuku akan insan yang pasrah.  Dalam ombaknya Ia berdesir akan rintihan insan yang rela larut dalam dosa demi sesuatu yang mereka cintai. Keluarga? Anak? Miris aku katakan. Desahan itu tentu bukan cuma kenikmatan diambang mata atau kemaksiatan, bisa jadi desahan pasrah yang tak tau akan menggapai uang dengan cara apalagi. Kasihan, beranggapan tubuh bisa dijajakan demi tangan menyentuh uang.

Memang benar manusia tak berhak menghakimi. Pezina sekalipun juga masih manusia.

Oh, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan semoga menolong hambanya yang penuh pasrah ini. Setidaknya berilah pencerahan karena aku sebagai manusia lemah kerjaan-nya hanya menghakimi dari sebelah mata. Tentu Tuhan lebih berhak menilai, matanya jauh lebih luas dari jagat angkasa.

Kemudian aku kembali mengutuki diri. Siapa aku? Siapa aku yang awalnya menganggap jijik dan jorok kepada mereka ini?

Ah, aku bukan siapa-siapa... Ancol di penghujung malam telah menegurku bahkan diriku tak berhak menilai para ‘pendosa’ di tempatnya sekalipun..

 

Komentar