"Bejo, sampai kapan kau akan terus menunda begini? Mau nunggu sampai Mpok Inah menjanda?!"
"Tenanglah Tarjo, nanti masih ada waktu. Aku mau bersantai sebentar".
Kalau soal Bejo dia adalah pemuda yang hobinya suka menunda. Mau soal kerja, mau soal tugas ataupun jodoh pasti suka menunda. Jawabnya, "Nanti juga bisa". Hari-harinya diisi dengan rebahan dibawah pohon klengkeng, menikmati es lilin sambil mengawasi domba. Kemarin ada panggilan untuk kerja lebih baik, bekerja di ladang Pak Samir misalnya. Sempat Bejo ambil, tetapi karena sifat Bejo yang penunda membuat bos siapapun geram.
"Wanita incaran-mu itu, siapa namanya? " Tarjo berkacak pinggang, tangan satunya mengorek upil dengan kelingking.
"Hah, si Arum? Kenapa?"
Tarjo mendengus lalu menyutik upil keluar, melempar upil itu kearah Bejo.
"Inilah akibat orang suka menunda, soal kerja saja ditunda apalagi soal jodoh pasti ditunda juga".
Bejo memiringkan kepala bingung, "Maksudmu apa?"
"Selamat menjomblo terus kau Bejo. Akibat kau suka menunda, jodohmu keduluan anak lurah!"
Bejo melompat, Ia lempar capingnya ke tanah, "Bangsul kau Tarjo! Tak usah menipu!"
"Kau kata aku menipu lalu surat undangan ini memang punya siapa hah?"
Tarjo melempar sebuah kertas yang berhiaskan ornamen bunga kepada Bejo. Bejo gemetar, membuka lembaran itu dengan mata berkaca.
"Anjing! Tai asu!" Bejo melempar kertas ke tanah menginjak-injak lalu menendang caping.
"Ha-ha-ha, sekarang kau mau bagaimana? Kalau tak mau menjomblo selamanya, akan baik tunggu Mpok Inah menjanda. Bukan-nya kau suka menunggu dan menunda? Ha-ha!" Tarjo tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah Bejo yang jingkrak-jingkrak tapi bukan jingkrak bahagia.
Bejo hanya meringis kemudian, menyesali nasi yang sudah jadi bubur. Tarjo mungkin benar bahwa Bejo terlalu banyak menunda hingga perihal jodoh pun keduluan anak lurah.
Bejo oh bejo, kau sungguh apes.
Komentar
Posting Komentar