Langsung ke konten utama

Kalau Jodoh Tidak Kemana

 "Bejo, sampai kapan kau akan terus menunda begini? Mau nunggu sampai Mpok Inah menjanda?!"

"Tenanglah Tarjo, nanti masih ada waktu. Aku mau bersantai sebentar".

Kalau soal Bejo dia adalah pemuda yang hobinya suka menunda. Mau soal kerja, mau soal tugas ataupun jodoh pasti suka menunda. Jawabnya, "Nanti juga bisa". Hari-harinya diisi dengan rebahan dibawah pohon klengkeng, menikmati es lilin sambil mengawasi domba. Kemarin ada panggilan untuk kerja lebih baik, bekerja di ladang Pak Samir misalnya. Sempat Bejo ambil, tetapi karena sifat Bejo yang penunda membuat bos siapapun geram.


"Wanita incaran-mu itu, siapa namanya? " Tarjo berkacak pinggang, tangan satunya mengorek upil dengan kelingking.

"Hah, si Arum? Kenapa?"

Tarjo mendengus lalu menyutik upil keluar, melempar upil itu kearah Bejo.

"Inilah akibat orang suka menunda, soal kerja saja ditunda apalagi soal jodoh pasti ditunda juga".

Bejo memiringkan kepala bingung, "Maksudmu apa?"

"Selamat menjomblo terus kau Bejo. Akibat kau suka menunda, jodohmu keduluan anak lurah!"

Bejo melompat, Ia lempar capingnya ke tanah, "Bangsul kau Tarjo! Tak usah menipu!"

"Kau kata aku menipu lalu surat undangan ini memang punya siapa hah?"

Tarjo melempar sebuah kertas yang berhiaskan ornamen bunga kepada Bejo. Bejo gemetar, membuka lembaran itu dengan mata berkaca.

"Anjing! Tai asu!" Bejo melempar kertas ke tanah menginjak-injak lalu menendang caping.

"Ha-ha-ha, sekarang kau mau bagaimana? Kalau tak mau menjomblo selamanya, akan baik tunggu Mpok Inah menjanda. Bukan-nya kau suka menunggu dan menunda? Ha-ha!" Tarjo tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah Bejo yang jingkrak-jingkrak tapi bukan jingkrak bahagia.

Bejo hanya meringis kemudian, menyesali nasi yang sudah jadi bubur. Tarjo mungkin benar bahwa Bejo terlalu banyak menunda hingga perihal jodoh pun keduluan anak lurah.

Bejo oh bejo, kau sungguh apes.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANI YANG GEMAR MENANTI

ANI YANG GEMAR MENANTI Karya oleh Senaphilme   Malam pukul tujuh di Stasiun Purwokerto, Ani duduk sembari menerawang kearah papan kerlap-kerlip bertuliskan jadwal kedatangan sepur. Jaketnya Ia kancing sampai leher, kedua tangan mengatup sambil sesekali digesek satu sama lain. Kakinya bergoyang kekanan kekiri hampir seperti orang menggigil. Matanya sayu seperti tidak tidur semalaman, ada garis hitam dibawah mata. Diluar angin bertiup membawa hujan sampai menggoyang pohon. Guntur sesekali menyambar, terkadang hanya bergemuruh, terkadang keras seperti bunyi petasan mercon. Hawa dingin masuk, menusuk tubuh Ani walau seberapa rapat Ia sudah mengancing jaketnya. Tetapi badan-nya teguh, tak sedikitpun Ia sandarkan walau matanya beberapa kali meminta Ani untuk tidur. Terkantuk-kantuk dirinya. Kalau bertanya tentang apa yang ditunggu oleh Ani, maka dijawab Ani sedang menunggu sepur dari Yogyakarta―Purwokerto. Mungkin hatinya akan tenang ketika lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ berkumandang say...

ANCOL DI PENGHUJUNG MALAM

Ancol di Penghujung Malam Karya oleh Senaphilme     “Kau kerja disini juga, Mbak?” Aku menghembus nafas. Asap tipis keluar dari bibirku sebelum aku menjawab pertanyaan dari seseorang berpenampilan menor di depanku ini. Tidak, ini bukan asap rokok melainkan uap udaraku sendiri. Malam ini entah mengapa begitu dingin. Kusapu pandangan sejenak. Ratri sudah sunyi, kendaraan berlalu lalang tak sebanyak tadi. Suara desir pantai Ancol menembus telingaku, tak lagi bising oleh suara mesin ataupun klakson. Kalau bicara soal Ancol, siapapun tahu nama tempat ini. Tetapi yang tidak kebanyakan orang tahu tentang Ancol adalah betapa liarnya Ia dimalam hari. Disana, diujung sana ada yang memadu tanpa tahu malu. Kalau kau mau lebih liar lagi masuklah ke tempat-tempat gelap. Maka kau akan melihat para insan entah sedang berada diambang kenikmatan atau pengaruh bisikan setan. Terkadang aku hanya tersenyum atau tertawa sendiri melihat para insan yang larut dalam maksiat. Seperti...