Langsung ke konten utama

PANDANGAN PERTAMA

                                                                    Pandangan Pertama

 Karya oleh : Senaphilme


KRINCING!

Pintu kafe terbuka lebar. Diambang pintu sana sesosok perempuan dengan setelan kemeja dan blazer yang disampir di lengan masuk. Di kepalanya ada topi beret berwarna putih pastel. Rambut wanita itu Ia ikat gulung sedikit berantakan. Suara sepatunya bergema di kafe yang lengang ini. Memang di pagi hari belum banyak pengunjung datang, penghuni disini baru aku dan para barista. Alunan musik jazz mengalir dari radio, rocok sekali dengan suasana pagi yang sedikit gerimis.

Dia Fania, temanku dan sahabatku. Aku hafal selera berpakaian-nya. Ia senang sekali memadukan warna pastel dan beberapa gaya jadul. Makin Fania mendekat kearahku, bau parfum vanilla yang biasa Ia pakai makin familiar di hidungku. Lalu Ia duduk di depanku dengan senyum sumringah. Gigi atasnya yang sedikit maju tak sekalipun malu untuk Ia tampakkan.

“Sudah lama, Sen?”

Aku diam sebentar, terjeda. Memandangi Fania dari atas sampai bawah sebelum kembali ke matanya.

“Belum kok”, ucapku lalu tersenyum tipis, “Rapi sekali, Fan”.

Fania hanya terkekeh, “Aku memang selalu rapi”.

Aku mengangguk, kalimat yang kuucapkan tadi hanya sedikit untuk basa-basi.

“Kau juga selalu dengan setelanmu itu. Kemaja putih, jaket jeans, lalu bawahan celana jeans”, ucap Fania.

Aku mengangkat bahu, “Hanya itu yang ada di lemariku”.

Fania tertawa spontan. Ia kemudian melepas topi beretnya lalu meletakkan diatas meja.

“Oh iya, sudah aku pesankan minuman. Kau tidak perlu memesan lagi”, kataku.

Fania membulatkan mata, “Benar? Kau memesan apa?”

Baru selesai Fania mengucap kalimat, seorang pelayan datang. Diatas nampan-nya Ia membawa dua cangkir minuman. Dengan pelan Ia meletakkan cangkir-cangkir itu diatas meja. Asap tipis mengepul, membawa perpaduan aroma wangi teh.

“Matcha latte, kesukaanmu. Hangat, cocok untuk cuaca yang dingin”, ucapku kemudian tersenyum kepada pelayan sebagai isyarat terima kasih.

Fania mendekatkan cangkir matchalatte karahnya lalu meniup lembut sebelum menyesapnya. Lipstik merahnya meninggalkan noda di pinggiran cangkir.

“Jadi, bagaimana kabarmu hari ini? Ada sesuatu menarik yang terjadi?” Tanyaku.

Fania mengangguk, “Ada banyak hal. Terutama di masa awal kuliah ini”, ucap Fania.

Aku mengangguk paham. Kami memang baru masuk kuliah di kota dan kampus yang sama. Hanya saja beda jurusan. Aku memilih untuk diam sejenak, membiarkan Fania leluasa bercerita.

“Aku bertemu seorang pria, kakak tingkat, aku menemukan sesuatu yang belum pernah aku temukan sebelumnya”, lanjut Fania.

Aku mengernyit sambil meminum teh-ku. Perasaanku sudah tidak enak apalagi jika bersangkutan dengan kakak tingkat.

“Dia punya mata yang enak dipandang. Kami bertemu saat dia menjadi asisten praktikum. Entah mengapa aku sering melihatnya mencuri pandang atau menatapku lama. Tapi kau tahu mata tidak bisa berbohong kan? Aku merasakan ada sesuatu dibalik tatapan-nya itu”.

Aku mengangguk, melirik kearah Fania sebentar sebelum meletakkan cangkir teh-ku, “Dan apa yang terjadi?”

Pertanyaan itu kuajukan karena melihat raut wajah Fania seperti orang kebingungan.

Fania menghela nafas, “Dia ternyata sudah punya pacar, tapi aku terlanjur tenggelam karena tatapan matanya”.

Aku membulatkan bibir. Yah, wajar saja. Aku tak menganggap kisah Fania konyol meskipun kedengarannya memang konyol. Tetapi jatuh cinta memang bisa dengan cara apa saja dan tanpa prediksi. Perihal perasaan memang hal yang rumit apalagi Fania adalah tipe wanita yang kikuk dalam perihal cinta. Terakhir kali aku mendengar kisah cintanya yang tanpa status itu dengan gebetan berujung ngenes karena di-ghosting. Tidak, bukan salah Fania tapi memang si pria yang kelewat bloon karena tidak bisa satu kampus dengan Fania sehingga memilih meninggalkan Fania tanpa ada kabar jelas.

“Kalau dia sudah punya pacar, mengapa berani menatapku seperti itu? Bikin kesal saja, apalagi dia sempat memberi perhatian padaku”, Fania menggerutu lalu menggulung-gulung bungkus kertas sedotan sebagai bentuk pelampiasan kekesalan dirinya.

Aku tertawa kecil melihat tingkah Fania yang cemberut. Tentu aku paham perasaan-nya yang gundah gundala karena pria yang Ia ceritakan ini. Wajar, masa-masa saat ini memang tengah bergejolaknya mencari pasangan walau sebenarnya tidak perlu-perlu amat.

“Mata tidak berarti apa-apa, Fan”, aku meneguk teh-ku perlahan, “Mereka memang tak bisa berbohong. Kau bisa tahu arti pandangan hanya dalam sekejap detik. Kau bisa jatuh cinta hanya karena bola mata yang saling terkunci dalam tiga puluh detik. Tapi itu juga tak berarti apa-apa”.

“Aku tidak mengerti”, Fania berujar dengan nada lirih.

“Artinya adalah―”, aku meletakkan gelas teh lalu tersenyum kearah Fania, “Mata hanya representasi dari kata-kata yang tidak bisa diucapkan dari bibir tapi tindakan berujar lebih keras dari pada kata-kata. Maka kalau dia tak ada usaha jerih untuk mendekatimu, mata yang memandangmu dengan takjub itu hanya pandangan belaka”.

Fania kini terlihat sedih, bibirnya tidak kembali menyungging senyum. Aku sudah menduga reaksinya akan begitu tapi mau bagaimana lagi? Usia 19 tahun bukanlah usia labil untuk berlarian kesana kemari mencari cinta. Aku tidak mau sahabatku terjebak dalam kisah cintanya yang sering ngenes itu. Akan sangat disayangkan jika seorang mahasiswa pintar dan berbakat seperti Fania tenggelam dalam  kisah cinta semu semasa kuliah.

“Kenapa aku selalu gagal dalam hal seperti ini ya, Sen? Padahal orang banyak yang memandangiku dengan tatapan takjub tapi kenapa tidak ada yang mendekatiku? Apakah aku ini tidak layak untuk punya kisah romansa juga?” Kini mata Fania terangkat. Kulihat bola matanya berkilat sembab.

Ah, aku merasa iba. Ternyata dia menganggap dirinya tak layak dicintai hanya karena tidak ada pria yang berani mendekati dirinya.

Aku memutar jemariku diatas gelas teh sambil menopang dagu.

“Bukan begitu”, kuhela nafas. Kualihkan pandanganku keluar kafe lalu menunjuk keluar, “Kau lihat mobil merah yang terparkir disana itu?”

Fania mengikuti arah jemariku menunjuk lalu mengangguk, “Sebuah Ferrari?”

“Ya, kau tahu berapa harganya?”

“Pasti mahal lah, mungkin sampai 1 milliar”.

“Nah, kau tahu itu mahal”, aku menghela nafas lalu tersenyum saat kami mengalihkan pandangan kembali seperti semula, saling menatap.

“Pasti kau juga tahu kalau siapapun yang lewat di depan mobil Ferrari itu akan memandang dengan takjub bukan?”

Fania mengangguk.

“Termasuk diriku, semua orang yang melihat Ferrari pasti menginginkan-nya. Siapa yang tidak mau ada Ferrari merah nangkring cantik di garasi mereka? Semua orang pasti mau, Fan”.

Fania manggut-manggut lalu menyeruput matchalatte-nya perlahan.

“Tapi kau juga tahu kan tidak semua orang mampu membeli Ferrari?” Aku menyandarkan tubuh lalu kembali menatap mobil Ferrari tadi.

“Semua orang akan memandang Ferrari dengan takjub. Mereka bisa memfotonya, memandangi selama lebih dari tiga puluh detik, atau berbicara betapa bagusnya Ferrari itu”, kuhela nafas pelan, “Tapi tidak semua orang bisa memilikinya. Terkadang yang hanya mampu beli Avanza cuma bisa memandang Ferrari dari kejauhan walau seberapa indah dan takjub matanya saat memandang. Tapi keinginan hanyalah sebuah keingingan, kita pasti sadar diri Ferrari adalah suatu yang sangat mahal digapai. Hanya konglomerat atau orang sukses yang mampu membelinya, orang yang punya kelas, dan punya kasta tentu saja”.

Ku kembalikan pandanganku, “Tapi ini bukan soal Ferarri”, kemudian aku tertawa pelan.

Fania hanya membulatkan mata. Ia seperti mendengar sesuatu yang tidak pernah Ia dengar sebelumnya.

“Kurasa kau bisa mengambil kesimpulan dari mobil Ferrari itu. Aku tidak akan mengucapkan kesimpulannya apa karena kau pasti akan tersipu malu”.

Fania menutup bibirnya lalu membuang pandangan. Ia mengernyitkan alis, “Aku? Barang mahal? Masa sih?” Ia bergumam.

“Kalau bukan barang mahal, kau pasti sekarang akan ditawar dengan janji manis untuk nego harga. Tapi nyatanya sekarang belum ada yang pernah menawarimu begitu bukan? Mengajakmu pacaran juga belum ada yang pernah”, aku mengangkat bahu.

“Ucapanmu benar, tapi jangan keras-keras dong!” Fania menggerutu.

“Loh, aku boleh kan memamerkan barang mahal? Sekarang aku sedang duduk berdua dengan barang mahal nih”, ucapku menggoda, “Barang mahal yang bahkan dipacari saja belum pernah”.

“Ah, Sena! Kau menyebalkan sekali!” Wajah Fania memerah kemudian ia melempar bungkus sedotan yang tadi Ia gulung padaku.

Aku tertawa, “Sudahlah Fan, tidak usah menyangkal dengan tingkahmu itu. Aku yakin kau memang barang mahal kok”.

Fania terdiam lalu mata bulatnya itu menatapku. Menatapku dengan cara berbeda, lebih dalam dari sebelumnya.

“Kau tahu Sena, kau juga punya mata seperti dia menatapku. Lalu jika aku memiliki sebuah dugaan, apakah dugaan itu akan benar?”

Aku tertegun lalu menyembunyikan senyumku. Ada hening diantara aku dan Fania sebelum bibirku ini memilih untuk berbicara.

“Aku tahu apa dugaanmu”, kuhela nafas, “Tapi sebaiknya kau tidak terlalu memikirkan hal itu”.

“Lalu apakah kau itu seorang pria yang hanya mampu beli Avanza?” Kemudian Fania mengalihkan pandangan-nya.

Aku tertawa pelan sebelum menghabiskan tegukan terakhir dari cangkirku.

“Aku adalah seorang pria nekat yang sedang mencari peluang untuk membeli Ferrari”.

Fania melebarkan mata, pandangan-nya penuh arti.

“Lupakan soal Ferrari, mau jalan-jalan bersamaku mengintari kota Malioboro? Akan kutunjukan sesuatu yang lebih mahal dari Ferrari”.

Aku mengedipkan mata sebelum mengakhiri kisah hari ini dengan tawa bersama antara aku dan Fania.

 

-end

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANI YANG GEMAR MENANTI

ANI YANG GEMAR MENANTI Karya oleh Senaphilme   Malam pukul tujuh di Stasiun Purwokerto, Ani duduk sembari menerawang kearah papan kerlap-kerlip bertuliskan jadwal kedatangan sepur. Jaketnya Ia kancing sampai leher, kedua tangan mengatup sambil sesekali digesek satu sama lain. Kakinya bergoyang kekanan kekiri hampir seperti orang menggigil. Matanya sayu seperti tidak tidur semalaman, ada garis hitam dibawah mata. Diluar angin bertiup membawa hujan sampai menggoyang pohon. Guntur sesekali menyambar, terkadang hanya bergemuruh, terkadang keras seperti bunyi petasan mercon. Hawa dingin masuk, menusuk tubuh Ani walau seberapa rapat Ia sudah mengancing jaketnya. Tetapi badan-nya teguh, tak sedikitpun Ia sandarkan walau matanya beberapa kali meminta Ani untuk tidur. Terkantuk-kantuk dirinya. Kalau bertanya tentang apa yang ditunggu oleh Ani, maka dijawab Ani sedang menunggu sepur dari Yogyakarta―Purwokerto. Mungkin hatinya akan tenang ketika lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ berkumandang say...

ANCOL DI PENGHUJUNG MALAM

Ancol di Penghujung Malam Karya oleh Senaphilme     “Kau kerja disini juga, Mbak?” Aku menghembus nafas. Asap tipis keluar dari bibirku sebelum aku menjawab pertanyaan dari seseorang berpenampilan menor di depanku ini. Tidak, ini bukan asap rokok melainkan uap udaraku sendiri. Malam ini entah mengapa begitu dingin. Kusapu pandangan sejenak. Ratri sudah sunyi, kendaraan berlalu lalang tak sebanyak tadi. Suara desir pantai Ancol menembus telingaku, tak lagi bising oleh suara mesin ataupun klakson. Kalau bicara soal Ancol, siapapun tahu nama tempat ini. Tetapi yang tidak kebanyakan orang tahu tentang Ancol adalah betapa liarnya Ia dimalam hari. Disana, diujung sana ada yang memadu tanpa tahu malu. Kalau kau mau lebih liar lagi masuklah ke tempat-tempat gelap. Maka kau akan melihat para insan entah sedang berada diambang kenikmatan atau pengaruh bisikan setan. Terkadang aku hanya tersenyum atau tertawa sendiri melihat para insan yang larut dalam maksiat. Seperti...

Kalau Jodoh Tidak Kemana

 "Bejo, sampai kapan kau akan terus menunda begini? Mau nunggu sampai Mpok Inah menjanda?!" "Tenanglah Tarjo, nanti masih ada waktu. Aku mau bersantai sebentar". Kalau soal Bejo dia adalah pemuda yang hobinya suka menunda. Mau soal kerja, mau soal tugas ataupun jodoh pasti suka menunda. Jawabnya, "Nanti juga bisa". Hari-harinya diisi dengan rebahan dibawah pohon klengkeng, menikmati es lilin sambil mengawasi domba. Kemarin ada panggilan untuk kerja lebih baik, bekerja di ladang Pak Samir misalnya. Sempat Bejo ambil, tetapi karena sifat Bejo yang penunda membuat bos siapapun geram. "Wanita incaran-mu itu, siapa namanya? " Tarjo berkacak pinggang, tangan satunya mengorek upil dengan kelingking. "Hah, si Arum? Kenapa?" Tarjo mendengus lalu menyutik upil keluar, melempar upil itu kearah Bejo. "Inilah akibat orang suka menunda, soal kerja saja ditunda apalagi soal jodoh pasti ditunda juga". Bejo memiringkan kepala bingung, "Ma...