Di malam sejuk ini Simbah duduk sendirian. Musiknya hanya nyanyian jangkrik, terkadang suara kodok ngorek. Radio yang tadi berisik dengan dialog orang dialek Banyumasan tak lagi terdengar. Entah mati karena baterainya habis atau sengaja dimatikan oleh Simbah.
Satu batang kretek
tembakau ludes, tangan-nya melinting yang lain. Ia tambahkan cengkeh, katanya
biar wangi sedikit karena aku tak suka bau kretek tembakau.
Bibirnya lalu sibuk
mengisap dan menghembus. Matanya menatap kearah langit dimana Sang Sabit nampak
diri bersama Lintang.
Kalau tentang malam, Simbah
memang suka apalagi malam bulan Ramadhan begini. Kata Simbah hawanya sejuk,
tentram, lebih indah lagi kalau ada Sang Sabit. Biasanya setelah teraweh Ia
duduk, seperti biasa mengisap kretek sambil ditemani kopi hitam panas.
Terkadang gorengan juga tersaji, itupun kalau Mbah Putri atau Lik Inah sedang kober
membuatkan untuk Simbah. Paling tidak pernah absen tentu saja kopi dan kreteknya.
Namun karena aku datang kali ini, gorengan muntul lengkap dengan mendoan
tersaji hangat. Didalam Lik Inah masih menggoreng pisang, bau manisnya tercium sampai
kesini.
“Mbesengut bae”*cemberut
saja ,
ucap Simbah.
Aku tersenyum miring, “Mboten
lah, Mbah”*Tidak lah, mbah.
Simbah manggut, menaruh
kereteknya di asbak kemudian.
“Putu Wadon, lagi jatuh
cinta?”
Aku tertegun, Simbah tertawa.
Ah, Simbah tahu saja bibirku
yang manyun ini bukan perkara nilai anjlok atau pusing akan kuliah. Memang
perihal asmara tak pernah absen dari lika-liku masa remaja. Terkadang membuat
bahagia, terkadang nestapa. Kalau perihal yang kualami sekarang, diantara
bahagia dan nestapa.
Bahagia, karena kemarin
aku bertemu dengan-nya. Nestapa, karena kemarin bisa jadi terakhir kali aku
melihat dirinya.
“Ya, begitulah Mbah”, aku
menghela nafas. Kualihkan pandangan kearah langit penuh bintang.
Simbah berdehem pelan, “Kenapa
tentang cintamu itu?”
Aku terdiam sejenak
sebelum menatap Simbah yang walaupun sudah berkeriput, senyum di matanya tak
mengendur.
“Rindu”, Aku berujar
pelan.
Simbah tak bersuara.
Mungkin menunggu aku menambahkan kalimat lain.
Aku menarik nafas, “Dia
pergi, Mbah. Melanjutkan mimpi ke Kota Pelajar”, kurasakan mataku pedih seperti
habis mengupas bawang.
Simbah tertawa pelan, “Bagus
dong, kau tidak ikut juga kesana?”
Aku menggeleng, “Jalan
yang akan kita tempuh berbeda”, kupalingkan wajah sejenak sambil menyeka air
yang hampir mengalir ke pipi.
Simbah diam. Wajahnya
yang tadi tersenyum sumringah menjadi tersenyum simpati. Kulihat kerutan mulai
memudar di sekitar mata, tarikan bibirnya juga tak setinggi tadi.
“Mbah, apakah dosa bila putu
wadonmu ini merindukan seorang pria? Mungkin saling merindukan?” Tanyaku.
“Tidak”, ucapnya,
“Yang dosa itu saling
menidurkan”, Simbah tekekeh.
Aku spontan tertawa. Bubar,
tak jadi aku yang mungkin hendak menangis sampai mewek dihadapan Simbah.
“Loh ya tidak sampai
seperti itu toh, Mbah”, Aku berusaha menahan tawa.
Simbah mengambil sepotong
mendoan lalu memasukkan ke mulutnya. Ia mengunyah perlahan sebelum kembali
berujar.
“Biarlah dia meraih
mimpinya, kalau sudah dapat mimpinya nanti kau juga ikut bahagia. Sekarang apa
yang kau khawatirkan?”
“Aku takut tak bertemu
kembali, Mbah”, Aku menahan nafas,
“Aku―”
“Takut kalau kembali pun
Ia tak menemui dirimu? Takut Ia dengan orang lain?”
Aku terdiam karena yang
dikatakan Simbah benar. Lagi-lagi mataku pedih, kali ini seperti mencium bau
sambal goreng.
Simbah kembali menggigit mendoan.
Mengunyah sebentar lalu menelan.
“Nduk...” suara Simbah
lembut seperti pendongeng.
“Perihal cinta itu tak
harus saling memiliki. Terkadang ini tentang ikhlas atau hanya saling rindu”.
Kepalaku tertunduk tak
menatap Simbah.
“Memang berat ya rasanya
menahan diri untuk berkabar agar tidak terjerumus dalam dosa? Bagus kalau
begitu, lanjutkan meski sakit”, ucap Simbah.
“Memang mencintai itu
sesakit ini ya, Mbah?”, suaraku serak, “Kalau begitu aku tak mau jatuh cinta
lagi”.
Simbah menhembus pelan, “Nduk,
justru saling merindukan itu adalah hal terindah”.
Aku tertegun, mataku
membulat menatap Simbah, “Bisa begitu?”
Simbah tersenyum hangat, “Kalau
kau masih mengalami pesakitan akibat cinta, kau belum benar-benar mengerti
cinta”, Ia menyeruput kopinya sebentar, “ Ini perihal ikhlas. Ikhlas melihat
dia bahagia, meskipun nanti bukan bersama dirimu”.
Simbah menatapku yang mungkin
sekarang bibirnya dalam bentuk terjelek karena menahan tangis, “Rindu itu
wajar, khawatir itu wajar, tetapi sejatinya ini yang namanya cinta. Cinta itu
bukan perihal kalian menghabiskan momen bersama, pergi makan bakso berdua atau
bertukar surat mesra”, Simbah merangkulku, “Tidak, bukan itu”.
Aku masih belum berani
menatap Simbah meskipun Ia merangkulku seperti dulu waktu aku masih kecil.
“Inilah cinta, ketika kau
tak berada disampingnya apakah Ia masih mengendap di pikiranmu? Apakah sosoknya
terkadang masih menyelinap di waktu tidur? Apakah dadamu sesak saat kau
mendengar namanya?”
Kali ini aku berani
menatap Simbah. Ia menatap kearah langit malam, pecinya agak miring sedikit.
“Jika iya, maka nikmatilah
sebelum rasa itu pudar. Tak harus saling memiliki, tapi cobalah untuk bahagia
ketika Ia bahagia. Seperti Jawa, Ikhlas adalah kunci”, Simbah terkekeh. Ia
menirukan logat aktor Syubah Asa yang pernah mengatakan ‘Jawa adalah kunci’.
Aku tertawa pelan lalu
kuseka air mataku.
“Nggih mbah, kulo paham”*Iya
mbah, saya paham.
Simbah mengacak-acak
rambutku kemudian mengendurkan rangkulan-nya. Ia kembali sibuk dengan sepotong
mendoan dan segelas kopi.
“Yah kalau memang bukan
ditakdirkan untukmu, pria di dunia ini masih banyak. Mbah yakin akan ada yang
bisa menggantikan dirinya nanti, selalu begitu”.
Aku mengangguk.
“Cinta itu mudah yang bikin rumit itu para insan-nya
sendiri”.
Simbah menghela nafas, “Kalau
jodoh ya pasti kembali, kalau tidak ya cari yang lain. Kaya kuwe kok repot?”
*Gitu
aja kok repot?
Aku dan Simbah tertawa
bersama kemudian.
Memang benar jare
Simbah, cinta itu perihal ikhlas. Antara ikhlas merelakan, ikhlas mencintai,
atau ikhlas menerima.
Sebenarnya indah, hanya
saja mungkin aku belum menyadarinya.
Komentar
Posting Komentar