Langsung ke konten utama

Lisan

Hari ini aku melihat Andi duduk sendirian lagi di kelas. Seperti biasa, Ia hanya duduk di dekat jendela  sembari memandang keluar. Terkadang pandangan-nya tertuju kepada papan tulis kosong, tetapi seringkali matanya memandang jauh dari lantai atas ini.

Lonceng katedral berbunyi, menandakan waktu sudah lewat tengah hari.  Tetapi Andi, Ia masih duduk dengan lagu yang terputar di ponselnya. Aku tahu lagu itu, lagu milik band Cranberries. Dahulu, Ia dengan antusias mengatakan bahwa Ia sangat menyukai band itu. Dolores, sang vokalis yang menjadi pujaan bagi Andi.



“Kau masih disini ternyata”, Aku tersenyum kearah Andi.

Diriku berdiri diambang pintu dengan kedua tangan di saku jaket. Angin berhembus dingin, meniup rambutku yang agak panjang.

Andi menoleh kearahku, kemudian tersenyum tipis. Ia menggeser dan menepuk bangku di sebelahnya. Isyarat padaku untuk duduk.

Aku berjalan kearahnya, pandanganku terkunci pada Andi yang matanya sayu. Lingkaran hitam terlihat jelas di sekeliling  matanya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyaku.

Andi mengangguk, “Aku hanya suka disini. Diatas sini aku bisa melihat sesuatu  yang jauh”, ujarnya.

Tidak, sebenarnya bukan itu jawaban yang kumau. Jawaban yang kumau adalah penjelasan mengenai wajahnya yang terlihat pucat dan lesu. Jawaban yang kumau adalah mengapa dirinya terasa begitu dingin. Tetapi Andi nampak antusias dengan kehadiranku, setidaknya jika Ia tak baik-baik saja aku bisa menemani-nya sebentar.

Aku duduk disamping Andi. Andi menunjuk kearah atap katedral yang loncengnya bergoyang kekiri dan kekanan.

“Melihat katedral itu misalnya”, ujar Andi.

Aku mengangguk paham. Tampaknya Andi suka kelas sunyi seperti ini dimana Ia bisa menikmati waktu sendiri.

“Kau mau?” Aku mengeluarkan sebuah permen. Permen rasa karamel, kesukaan Andi.

Andi tersenyum sumringah lalu mengambil permen itu dari tanganku. Ia memakan dan meletakan bungkusnya begitu saja diatas meja.

“Tewriwma kawsih!” Andi berujar dengan mulut yang penuh permen.

Aku tertawa melihat tingkahnya. Dia memang sangat menyukai permen karamel.

“Aku jarang melihatmu akhir-akhir ini, kau kemana saja?” Tanyaku.

Andi meneguk permen-nya dengan susah payah sebelum menjawab, “Aku disini kok, aku selalu duduk disini”.

Aku mengigit bibir bawah pelan, “Apakah kau ada masalah? Kau nampak berbeda”.

Andi terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaanku.  Ia memandangku sebentar, menunduk, lalu memandangku lagi. Kemudian Ia mengangguk.

“Ceritakanlah, aku akan  mendengarmu”.

Andi menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya di pembatas jendela.  Matanya berkaca.

“K-kau tahu aku masih memikirkan tentang perkataan yang dilontarkan Rudi kemarin”, Andi berujar lirih.

“Yang perkara candaan tentang dirimu itu?”

Andi mengangguk.

Aku tahu kejadian kemarin saat Andi diejek oleh Rudi karena ketidakmampuan Andi untuk berbicara dengan jelas. Andi sering mengalami gagap bicara, apalagi saat sedang presentasi atau berbicara di depan orang banyak.

Tetapi hari ini nampak sangat berbeda, Andi tidak gagap. Tidak sama sekali.

“Kau tak usah memedulikan Rudi, dia memang seperti itu. Anaknya problematik”, Aku menepuk bahu Andi.

“Sebenarnya bukan Rudi saja, masih banyak yang lain.  Mereka mengataiku seolah tahu banyak tentang diriku”.

Aku menghelas nafas, “Orang-orang itu kalau berujar sukanya seenak sendiri ya? Merasa ucapan-nya bakal diterima padahal bikin muak”, aku  terkekeh, “Sudah, tak usah kau pedulikan. Kau  tenangkan  dirimu terlebih dahulu”.

“Aku juga kesakitan nih, kemarin Rudi dan geng-nya memukulku”, Andi menunjuk kearah pelipisnya yang lebam.

“Astaga mereka jahat sekali”, Aku bergumam lirih.

Aku merasa kasihan dengan Andi. Ia selalu menjadi sasaran empuk bully selain karena badan-nya yang kecil juga bicaranya yang gagap. Rudi dan teman-temanya sudah melampaui batas.

“Kau tak perlu bersedih, kau tidak pantas diperlakukan seperti ini. Tidak ada yang pantas menerima perlakuan ini”, ucapku.

“Yah, setidaknya aku ingin Rudi mendapat pelajaran setimpal sih...”

“Kau tak usah memikirkan Rudi. Tak usah memikirkan manusia yang tak bisa memanusiakan manusia. Hei, kau kuat. Kau jangan memandang dirimu rendah hanya karena perlakuan yang Rudi beri kepadamu”.

“Kau baik sekali, Arie. Terima kasih atas motivasimu”, Andi tersenyum kearahku.

Angin tiba-tiba berhembus kencang, membuatku merapatkan jaket kedinginan.

“Kau tak perlu berterima kasih”, aku tersenyum tipis, “Tidakkah kau ingin pulang? Disini dingin sekali”.

Andi mengangkat bahu, bingung.

“Entahlah, aku ingin disini terus”, ucapnya.

“Hei, kau tidak bisa disini terus nanti diusir satpam. Ayo, pulanglah karena keluargamu pasti menunggu!” Aku memukul pelan bahu Andi.

Aku beranjak dari tempat dudukku lalu memberi isyarat kepada Andi untuk bangkit.

“Pulanglah, ini sudah saatnya untuk kau pulang”.

Mata Andi berlinang saat menatapku. Ia bangkit kemudian memelukku erat. Jemarinya meremas tengkuk-ku dan kudengar suara isaknya dengan samar.

Aku menepuk pelan bahu Andi dalam peluknya. Menenangkan dirinya yang terisak.

“Terima kasih, terima kasih sudah menemaniku”, Andi mendorongku pelan lalu menyeka air matanya.

“Sama-sama”, Aku tersenyum hangat.

Andi kemudian membalikkan badan. Sebelum melangkah pergi Ia berujar lagi,

“Kamu selalu khas dengan jaket abu-abumu itu ya, kau gantilah sesekali biar ada wanita yang melirik”.

Aku spontan tertawa mendengar itu, mau pergi pun Ia masih sempat melontarkan candaan.

“Haha! Kau bisa saja! Ya, lain kali akan aku ganti jadi jaket kulit biar bisa menggaet wanita seperti Elvis!”

Andi menoleh lalu tersenyum sebelum Ia melangkahkan kaki pergi. Kulihat dirinya makin menjauh dan menghilang diambang pintu kelas.

Angin tiba-tiba berhembus sekali lagi, meniup segala hal yang ada di kelas termasuk bungkus permen yang tadi Andi letakkan diatas meja.

Aku memungut bungkus itu, memasukkan-nya kedalam saku. Aku tak ingin meninggalkan sampah.

Drrt!! Drrt!!

Oh, ponselku bergetar. Tertera tulisan ‘Melanie’, dia adik kelasku sekaligus saudara Andi. Dengan cepat aku mengangkatnya.

“Ya? Halo?”

Sejenak diam, tak ada suara yang menyahut dari ponsel. Aku hanya mendengar suara kelompok orang yang tengah mengobrol.

“Halo?” Aku berujar sekali lagi. Memastikan ini bukan salah tekan.

“Ya, Kak Arie?”

Akhirnya kudengar suara Melanie.

“Bicaralah...”

Lalu suara isakkan tangis menggantikan suara Melanie yang tadinya lembut menjadi terbata dan serak.

“Mel?”

“Kak Andi sudah tiada...”

Aku terduduk lemas ketika mendengar ucapan itu. Berusaha aku menopang tubuh dengan bersandar pada meja.

“Ha...Hah?”

Otakku masih berusaha mencerna perkataan Melanie. Tampaknya aku tidak menerima kalimat yang terlontar barusan.

“Kak Andi sepertinya tidak bisa bertahan. Pemakaman akan digelar sore ini. Kakak, aku tak bisa berbicara lama lagi. Aku akan menangkan diri dulu...”

TUT!

Panggilan diakhiri. Aku tak bisa berkutik.

Tidak, pulang yang kumaksud kepada Andi bukanlah pulang kepada Sang Pencipta.

Andi memang koma selama tiga minggu akibat dikeroyok oleh sekelompok siswa. Ya itu dia, Rudi dan teman-temannya.

Oh, Andi sudah memilih jalan-nya antara hidup atau mati Ia memilih mati. Tampaknya Andi tidak kuat akan tekanan yang Ia dapat selama hidup. Hinaan, cacian, gunjingan mengenai dirinya, dan perilaku bully membuatnya tak punya harapan lagi.

Andi, setidaknya kau tenang di alam sana....

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANI YANG GEMAR MENANTI

ANI YANG GEMAR MENANTI Karya oleh Senaphilme   Malam pukul tujuh di Stasiun Purwokerto, Ani duduk sembari menerawang kearah papan kerlap-kerlip bertuliskan jadwal kedatangan sepur. Jaketnya Ia kancing sampai leher, kedua tangan mengatup sambil sesekali digesek satu sama lain. Kakinya bergoyang kekanan kekiri hampir seperti orang menggigil. Matanya sayu seperti tidak tidur semalaman, ada garis hitam dibawah mata. Diluar angin bertiup membawa hujan sampai menggoyang pohon. Guntur sesekali menyambar, terkadang hanya bergemuruh, terkadang keras seperti bunyi petasan mercon. Hawa dingin masuk, menusuk tubuh Ani walau seberapa rapat Ia sudah mengancing jaketnya. Tetapi badan-nya teguh, tak sedikitpun Ia sandarkan walau matanya beberapa kali meminta Ani untuk tidur. Terkantuk-kantuk dirinya. Kalau bertanya tentang apa yang ditunggu oleh Ani, maka dijawab Ani sedang menunggu sepur dari Yogyakarta―Purwokerto. Mungkin hatinya akan tenang ketika lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ berkumandang say...

ANCOL DI PENGHUJUNG MALAM

Ancol di Penghujung Malam Karya oleh Senaphilme     “Kau kerja disini juga, Mbak?” Aku menghembus nafas. Asap tipis keluar dari bibirku sebelum aku menjawab pertanyaan dari seseorang berpenampilan menor di depanku ini. Tidak, ini bukan asap rokok melainkan uap udaraku sendiri. Malam ini entah mengapa begitu dingin. Kusapu pandangan sejenak. Ratri sudah sunyi, kendaraan berlalu lalang tak sebanyak tadi. Suara desir pantai Ancol menembus telingaku, tak lagi bising oleh suara mesin ataupun klakson. Kalau bicara soal Ancol, siapapun tahu nama tempat ini. Tetapi yang tidak kebanyakan orang tahu tentang Ancol adalah betapa liarnya Ia dimalam hari. Disana, diujung sana ada yang memadu tanpa tahu malu. Kalau kau mau lebih liar lagi masuklah ke tempat-tempat gelap. Maka kau akan melihat para insan entah sedang berada diambang kenikmatan atau pengaruh bisikan setan. Terkadang aku hanya tersenyum atau tertawa sendiri melihat para insan yang larut dalam maksiat. Seperti...

Kalau Jodoh Tidak Kemana

 "Bejo, sampai kapan kau akan terus menunda begini? Mau nunggu sampai Mpok Inah menjanda?!" "Tenanglah Tarjo, nanti masih ada waktu. Aku mau bersantai sebentar". Kalau soal Bejo dia adalah pemuda yang hobinya suka menunda. Mau soal kerja, mau soal tugas ataupun jodoh pasti suka menunda. Jawabnya, "Nanti juga bisa". Hari-harinya diisi dengan rebahan dibawah pohon klengkeng, menikmati es lilin sambil mengawasi domba. Kemarin ada panggilan untuk kerja lebih baik, bekerja di ladang Pak Samir misalnya. Sempat Bejo ambil, tetapi karena sifat Bejo yang penunda membuat bos siapapun geram. "Wanita incaran-mu itu, siapa namanya? " Tarjo berkacak pinggang, tangan satunya mengorek upil dengan kelingking. "Hah, si Arum? Kenapa?" Tarjo mendengus lalu menyutik upil keluar, melempar upil itu kearah Bejo. "Inilah akibat orang suka menunda, soal kerja saja ditunda apalagi soal jodoh pasti ditunda juga". Bejo memiringkan kepala bingung, "Ma...