Langsung ke konten utama

Postingan

Suatu Malam di Kampung Anyar

Postingan terbaru

PANDANGAN PERTAMA

                                                                                      Pandangan Pertama  Karya oleh : Senaphilme KRINCING! Pintu kafe terbuka lebar. Diambang pintu sana sesosok perempuan dengan setelan kemeja dan blazer yang disampir di lengan masuk. Di kepalanya ada topi beret berwarna putih pastel. Rambut wanita itu Ia ikat gulung sedikit berantakan. Suara sepatunya bergema di kafe yang lengang ini. Memang di pagi hari belum banyak pengunjung datang, penghuni disini baru aku dan para barista. Alunan musik jazz mengalir dari radio, rocok sekali dengan suasana pagi yang sedikit gerimis. Dia Fania, temanku dan sahabatku. Aku hafal selera berpakaian-nya. Ia senang sekali memadukan warna pastel dan beberapa gay...

ANCOL DI PENGHUJUNG MALAM

Ancol di Penghujung Malam Karya oleh Senaphilme     “Kau kerja disini juga, Mbak?” Aku menghembus nafas. Asap tipis keluar dari bibirku sebelum aku menjawab pertanyaan dari seseorang berpenampilan menor di depanku ini. Tidak, ini bukan asap rokok melainkan uap udaraku sendiri. Malam ini entah mengapa begitu dingin. Kusapu pandangan sejenak. Ratri sudah sunyi, kendaraan berlalu lalang tak sebanyak tadi. Suara desir pantai Ancol menembus telingaku, tak lagi bising oleh suara mesin ataupun klakson. Kalau bicara soal Ancol, siapapun tahu nama tempat ini. Tetapi yang tidak kebanyakan orang tahu tentang Ancol adalah betapa liarnya Ia dimalam hari. Disana, diujung sana ada yang memadu tanpa tahu malu. Kalau kau mau lebih liar lagi masuklah ke tempat-tempat gelap. Maka kau akan melihat para insan entah sedang berada diambang kenikmatan atau pengaruh bisikan setan. Terkadang aku hanya tersenyum atau tertawa sendiri melihat para insan yang larut dalam maksiat. Seperti...

ANI YANG GEMAR MENANTI

ANI YANG GEMAR MENANTI Karya oleh Senaphilme   Malam pukul tujuh di Stasiun Purwokerto, Ani duduk sembari menerawang kearah papan kerlap-kerlip bertuliskan jadwal kedatangan sepur. Jaketnya Ia kancing sampai leher, kedua tangan mengatup sambil sesekali digesek satu sama lain. Kakinya bergoyang kekanan kekiri hampir seperti orang menggigil. Matanya sayu seperti tidak tidur semalaman, ada garis hitam dibawah mata. Diluar angin bertiup membawa hujan sampai menggoyang pohon. Guntur sesekali menyambar, terkadang hanya bergemuruh, terkadang keras seperti bunyi petasan mercon. Hawa dingin masuk, menusuk tubuh Ani walau seberapa rapat Ia sudah mengancing jaketnya. Tetapi badan-nya teguh, tak sedikitpun Ia sandarkan walau matanya beberapa kali meminta Ani untuk tidur. Terkantuk-kantuk dirinya. Kalau bertanya tentang apa yang ditunggu oleh Ani, maka dijawab Ani sedang menunggu sepur dari Yogyakarta―Purwokerto. Mungkin hatinya akan tenang ketika lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ berkumandang say...